Sabtu, 28 April 2012

Makalah Lalat Tset tse


Bab 1 Pendahuluan   
1.1 Latar Belakang......................................................................................... 2
Bab 2 Pembahasan
2.1 Ekologi..................................................................................................... 3
2.2 Penyakit yang disebabkan........................................................................ 3
2.3 Parasit Trypanosomiasis & morfologi...................................................... 4
2.4 Pengobatan & Pencegahan...................................................................... 7
Bab 3 Penutup
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 9

 



LALAT TSETSE
Bab I     Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Tsetse adalah lalat berukuran cukup besar dan berasal dari Afrika yang hidup dengan cara mengisap darah dari binatang bertulang belakang (vertebrata). Tsetse meliputi seluruh lalat dari genus Glossina dari famili Glossinidae.
Tsetse adalah carrier (pembawa) bagi parasit Trypanosomiasis, jadi Tsetse tidak menghasilkan racun dan tidak berbahaya sebelum ia sendiri tertular Trypanosomiasis. Lalat ini suka menghisap darah, apabila darah korbannya telah terinfeksi Trypanosomiasis maka Tsetse akan tertular parasit tersebut dan dapat menyebarkan ke korban-korban berikutnya yang dihisap darahnya, karena air liur dari lalat ini ikut masuk kedalam lubang gigitan saat ia menghisap darah.

 

 




Bab 2   Pembahasan
2.1 Ekologi
Tsetse berpenampakan mirip lalat rumah tapi bisa dibedakan dari karakter anatomi mereka. Tsetse melipat sayap sepenuhnya pada saat tidak terbang sehingga sayap yang satu tertumpuk di atas sayap lain menutupi perut mereka.
Tsetse hidup di daerah berair seperti danau, rawa, dan juga wilayah hutan atau padang rumput yang lembab. Masa hidupnya adalah sekitar 30 hingga 90 hari, namun dalam masa hidupnya yang pendek itu Tsetse dapat menyebarkan petaka pada banyak korbannya. Diperkirakan hampir 300 ribu orang meninggal setiap tahunnya akibat parasit Trypanosomiasis, akibat kurangnya obat-obatan dan keterlambatan diagnosa.

 

2.2     Penyakit yang disebabkan
Lalat tsetse menggigit manusia / hewan vertebrata biasanya pada siang hari. Trypanosomiasis Gambia adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Trypanosoma gambiense pada lalat saat menggigit. Penyakit ini disebut juga West African Trypanosomiasis atau West African Sleeping Sickness        
Parasit ini pertama sekali ditemukan oleh Forde, pada tahun 1901, melalui pemeriksaan darah dari seorang pasien di Gambia, Afrika barat. Castellani (1903) juga menemukan parasit jenis yang sama pada pemeriksaan cairan serebrospinal pada pasien yang berbeda, dan oleh Dutton (1902) parasit tersebut diberi nama Trypanosoma gambiense.

2.3      Parasit Trypanosomiasis & morfologi
Trypanosoma gambiense merupakan protozoa berflagella yang hidup dalam darah (Haemoflagellates) dan dikelompokkan dalam family Trypanosomidae. Lalat tsetse, jantan dan betina, bertindak sebagai penyebab pambawa parasit ini, terutama Glossina palpalis. Lalat ini mempunyai jangkauan terbang sampai mencapai 3 mil.
Parasit Trypanosomiasis dapat menyebabkan demam, migrain dan menimbulkan kantuk yang luar biasa. Korban dapat tertidur (biasanya disebut Sleeping Sickness), dan bila tidak segera disembuhkan maka korbannya tidak akan pernah bangun lagi (meninggal). Binatang ataupun manusia dapat terinfeksi parasit ini dan juga dapat saling menularkan dengan perantara Tsetse.
Secara umum parasit Trypanosomiasis mempunyai 4 bentuk (morfologi) yang berbeda, yaitu :
1.   Bentuk Amastigot (Leismanial form)
Bentuk bulat atau lonjong, mempunyai satu inti dan satu kinetoplas serta tidak mempunyai flagela. Bersifat intraseluler. Besarnya 2-3 mikron
2.   Bentuk Promastigot (Leptomonas form)
Bentuk memanjang mempunyai satu inti di tengah dan satu flagela panjang yang keluar dari bagian anterior tubuh tempat terletaknya kinetoplas, belum mempunyai membran bergelombang, ukurannya 15 mikron.
3.   Bentuk Epimastigot (Critidial form)
Bentuknya memanjang dengan kinetoplas di depan inti yang letaknya di tengah mempunyai membran bergelombang pendek yang menghubungkan flagela dengan tubuh parasit, ukurannya 15-25 mikron.
4.   Bentuk Tripomastigot (Trypanosome form)
Bentuk memanjang dan melengkung langsing, inti di tengah, kinetoplas dekat ujung posterior, flagela membentuk dua sampai empat kurva membran bergelombang, ukurannya 20-30 mikron.
Pada stadium akhir, di dalam darah penderita, Trypomastigot memiliki beberapa bentuk yang berbeda, yaitu    :

 



o   Bentuk panjang dan langsing, memiliki flagella
o   Bentuk pendek dan lebih gemuk, sebagian tidak berflagela

Bentuk intermediet dengan inti terkadang ditemukan di posterior. Trypanosoma gambiense mengalami perubahan bentuk morfologi selama siklus hidupnya. Pleomorfik trypanosoma, yang merupakan bentuk infektif, akan terhisap bersama darah , saat lalat tsetse menggigit penderita. Parasit akan masuk ke dalam saluran pencernaan korban dan mengalami beberapa kali perubahan bentuk dan multiflikasi. Dalam waktu 3 minggu, parasit akan berubah menjadi bentuk Epimastigot.
Bentuk Epimastigot juga mengalami perubahan menjadi bentuk metacyclic form dan memenuhi kelenjar air liur lalat. Metacyclic form merupakan bentuk infektif pada vektor dan siap untuk ditularkan ke korban selanjutnya. Waktu yang diperlukan parasit ini untuk berkembang menjadi bentuk infektif dalam tubuh vektor adalah 20-30 hari. Lalat yang mengandung bentuk infektif ini akan tetap infektif seumur hidupnya.

2.4      Pengobatan & Pencegahan
Saat ini Suramin diberikan bagi pasien yang terdiagnosa dini, Eflornithine atau Pentamidine pada penderita yang agak lambat terdiagnosa, Melarsoprol diberikan bagi pasien yang telah terinfeksi lebih parah, namun makin lama pasien terdiagnosa dan tertolong, makin kecil pulalah peluang untuk selamat.
Cara pencegahan yang utama adalah tentu saja berusaha agar tidak tergigit oleh Tsetse, hindari wilayah yang merupakan habitat Tsetse, kemudian berusaha agar tubuh senantiasa fit dan sehat, Trypanosomiasis secara natural dapat terbasmi oleh kekebalan tubuh yang baik. Celakanya korban gigitan baik yang selamat karena memiliki kekebalan tubuh yang baik atau yang berhasil diobatipun telah menjadi carrier bagi Trypanosomiasis, sehingga berpotensi menularkan penyakitnya melalui transfusi atau perantara Tsetse.

 



Bab 3 Penutup
Demikianlah makalah ini kami susun dengan seksama dengan mengumpulkan data dari berbagai media. Mungkin malakah ini masih jauh dari kata sempurna, namun kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar nantinya kami akan lebih baik lagi dalam pembuatan makalah berikutnya.
Sekian kami ucapkan terima kasih atas bimbingan dosen pengajar yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anies. 2006. Manajemen Berbasis Lingkungan: Solusi Mencegah dan Menanggulangi Penyakit Menular. Elex Media Komputindo, Jakarta.
Hiswani. 2003. Toxoplasmosis Penyakit Zoonosis yang Perlu Diwaspadai oleh Ibu Hamil.
Soeharsono. 2002. Zoonosis Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar